Jumat, 07 Januari 2011

Mengnai Tragedi Expedisi WANADRI dan PPGAD di Van der Wall anak sungai Mamberamo Irian Jaya

Semenjak mengenal dunia arung jeram saya terus masih bertanya - tanya tentang cerita tragedi yang menimpa anggota WANADRI dan PPGAD (Persatuan Pendaki Gunung Angkatan Darat) saat ekspedisi arung jeram di Sungai Mamberamo Irian. Dari beberapa orang-orang yang pernah saya temui, dan saya anggap beliau - beliau itu jauh lebih dahulu mngenal arung jeram dibanding saya, tidak juga saya dapatkan sebuah cerita yang detail dari peristiwa itu. Akhirnya di suatu siang ketika orderan design sepi masuk keruangan kerja saya. Saya coba browsing dg Mbah Google tentang Tragedi Wanadri di Mamberamo. Akhirnya saya temukan artikel dari TEMPO online yang mengisahkan peristiwa itu.

MAJALAH TEMPO. 23 Februari 1991

Kisah kelana di Kali Boko

SELAMA Burangrang berdiri tegak Selama Citarum mengalir ria Selama itu pula kisah-kisah kelana Wanadri Tak ada henti-hentinya SAJAK ini, yang dimuat di sebuah buku terbitan Wanadri, menyiratkan tekad untuk terus berkelana, meski korban datang dan datang lagi. Dan Ahad malam lalu, 34 anggota Wanadri berkumpul di suatu tempat di Jalan Wastukencana, Bandung. Malam itu tak ada kisah kelana. Mereka mendoakan rekan mereka yang tewas dalam ekspedisi arung Sungai Van der Wall, anak Sungai Mamberamo, Irian Jaya, Kamis dua pekan lalu. Kesedihan itu mendalam, karena Januari lalu Wanadri kehilangan dua anggotanya ketika berlatih untuk lomba mengarungi Kali Progo. Musibah di Van der Wall ini juga menewaskan tiga orang personel Persatuan Pendaki Gunung Angkatan Darat (PPGAD). Dari sepuluh anggota ekspedisi, hanya tiga yang selamat. Inilah korban terbanyak di sungai sejak perkumpulan penempuh rimba dan pendaki gunung ini didirikan di Bandung 1964 (lihat Orad dan Korban-Korbannya).
Ekspedisi Van der Wall (disebut juga Sungai Boko) rencananya berlangsung 14 hari dan mengarungi 144 kilometer. Ini adalah satu bagian dari tiga ekspedisi gabungan Wanadri-PPGAD. Satu tim, terdiri dari sepuluh orang, mendaki Carstenz Pyramid setinggi 4.800 meter. Satu tim lainnya, terdiri dari sembilan orang, menaklukkan puncak Mandala. Menurut Pindi Setiawan, Ketua Pelaksana Harian Ekspedisi Irian Wanadri-PPGAD, operasi ini mulanya direncanakan di musim kemarau Oktober tahun lalu. Namun, karena dana yang dibutuhkan Rp 260 juta lebih belum tersedia, jadi tertunda.
Selasa dua pekan lalu, sepuluh pengarung sungai -- enam dari Wanadri dan empat dari PPGAD -- diterbangkan dari Sentani dengan heli Puma milik Pelita Air Service ke dekat Danau Arcbold. Seperti dituturkan Kol. Inf. Sutiyoso, Koordinator Lapangan Ekspedisi ini -- berdasarkan laporan anggota tim yang selamat -- tim itu mendirikan bivak (semacam tenda) di delta Sungai Boko, lalu membangun instalasi komunikasi. Sungai Boko tampak keruh akibat hanyutnya lapisan humus dari hulu. Pengamatan lokasi yang dilakukan tim ekspedisi ini, yang lazim disebut "survei darat", memang sangat minim. Jarak tempuh 144 kilometer di sungai ini tak pernah diteliti dari darat ataupun udara, sebagai mana layaknya dilakukan sebuah ekspedisi. Bekal yang dibawa cuma sebuah foto udara dan peta sungai. Foto udara itu pun hanya separuh akhir dari jarak 144 kilometer tadi. Artinya, dari start sampai separuh jarak, mereka praktis hanya mereka-reka rute perjalanan. Setelah menginap semalam, keesokan harinya tujuh anggota tim berusaha mencapai Danau Archbold, mengambil beberapa potret untuk dokumentasi. Rupanya, kawasan hutan perawan itu sulit ditembus, tujuh orang tadi memutuskan kembali ke bivak, dan sempat mengadakan kontak dengan pos komando di Sentani. Dengan pengetahuan minim tadi, akhirnya ekspedisi pun dimulai pada Kamis sekitar pukul 10.20 WIT.
Dua buah perahu merek Avon buatan Inggris berukuran lima meter segera diturunkan ke sungai. Di perahu pertama ada Hidayawan, Engkus, Sersan Dua Sunarjo, Sersan Dua Suprapto, dan Sigit Purnomo. Perahu kedua ditumpangi Tommy Apriantono, Teddy Kusmiyadi, Sigit Hapsoro, Sersan Dua Marjan, dan Sersan Dua Sugiri. Ketika start arus masih di sungai selebar 40 meter itu. Tapi sejam kemudian, arus makin deras. Di depan mereka sungai berbelok ke kanan. Karena buta apa yang ada di depan tikungan, kedua perahu tadi merencanakan menepi untuk melakukan scouting (pengamatan dari darat). Perahu pertama berhasil mendarat di sisi kiri sungai dan lima orang itu hanya berpegangan pada tanaman perdu yang tak kukuh. Perahu kedua kemudian menabrak bagian belakang perahu pertama. Akibatnya, posisi perahu pertama makin kritis karena terseret arus yang makin dahsyat. Perahu kedua, dengan teknik ferrying (mendayung 45 derajat melawan arus) rupanya berhasil meyeberangi badan sungai ke kanan, lalu mendarat di "ceruk" yang tenang. Perahu pertama terus terseret sampai tak tampak oleh awak perahu kedua. Upaya memanggil lewat handy talkie juga sia-sia. Scouting tak jadi dilakukan. Mereka memutuskan menyusul perahu pertama.
Ada analisa, ini lantaran peristiwa Kali Progo. Di Progo, tewasnya dua anak Wanadri ini lantaran kurang cepat ditolong perahu di belakangnya. Sebagian tim Progo ikut ekspedisi ini. Tiba-tiba sungai menyempit dengan ekstrem menjadi hanya dua meter -- lebar perahu karet yang dipakai juga dua meter. Otomatis arus amat deras. Dan begitu lepas dari lorong maut tadi, ada deretan jeram dan pusaran air sambung-menyambung. "Bisa dikatakan, daerah itu termasuk grade enam tingkat kesulitannya," ujar Arif Djohan, Sekretaris Umum Wanadri. Artinya, jeram itu mustahil bisa dilalui. Kedua perahu pun terbalik, penumpangnya tumpah dan diseret-seret air ganas. Sampai Sabtu pekan lalu, tim SAR sudah menemukan lima mayat. Korban dari PPGAD dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Jayapura, sedang anak Wanadri di pemakaman umum Sentani. Engkus, 23 tahun, mahasiswa sebuah politeknik di Bandung Sigit Hapsoro, 26 tahun, lulusan ITB dan Tommy Apriantono, 26 tahun, lulusan IKIP Bandung, selamat dan masih dirawat di RS Wamena. Yang masih terus dicari adalah Sersan Dua Marjan dan Teddy Kusmiyadi.
Cerita-cerita kelana Wanadri memang tak henti, seperti aliran Citarum dan Boko. Tapi akankah korban terus jatuh, hanya karena kesalahan yang sebenarnya bisa dikurangi jika persiapan lebih cermat?
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1991/02/23/OR/mbm.19910223.OR13274.id.html

Mudah - mudahan tulisan ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua yang menggemari olahraga arus deras atau alam bebas yang lainnya.

"PERSIAPAN YANG MATANG.......ADALAH KUNCI MENAKLUKAN TANTANGAN"

1 komentar: