Senin, 22 Agustus 2011

Pementasan Kethoprak Ringkes "Klungsu Klungsu Melu Udhu"






Jogjakarta merupakan kota kesenian dan kebudayaan, tak jemu-jemu para seniman baik seniman pertunjukan, seni rupa,musisi dan seni audio visual selalu menyuguhkan karya-karya mereka kepada publik. Salah satunya adalah Komunitas Tjonthong yang dimotori oleh Marwoto "kawer", Drs. Susilo Nugrha "Den Bagus e Ngarsa", Nano Asmorodono< Yu Ningsih "Yu Beruk" dan beberapa seniaman2 kethoprak lainnya. Kali ini Komunitas Tjonthong menggelar sebuah pementasan kethoprak "ringkes" dengan judul "Klungsu Klungsu Melu Udhu" yang di selanggarakan pada tgl 1-2 September 2011 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Adapun ringkasan cerita dari pementasan tersebut adalah sebagai berikut ;

Raden Bekel Prawira Purba (Ndara Purba) tiba tiba menjadi gila sekaligus diyakini sebagai seseorang yang memiliki kekuatan supranatural tinggi. Lewat perilakunya yang diluar kebiasaan orang ia memiliki kemampuan untuk melihat masa depan seseorang ataupun masa depan negara. Kemampuan tersebut menyebabkan RM Gagat Rahina dan kawan kawan ingin meniru. Keinginan itu semakin besar setelah mereka diberi klungsu (biji asam) oleh Ndara Purba dengan pesan untuk dibagikan, ditanam, dipanen, dan dibagikan kembali.

RM Gagat Rahina dan kawan kawan mencoba mengikuti kemanapun Ndara Purba Pergi. Mereka menyaksikan saat ia memukul polisi Belanda dan langsung pingsan. Atau saat petinggi Belanda dan Jawa yang pro Belanda lari ketakutan menghadapi Ndara Purba yang hanya sendirian. Dari kejadian itulah RM Gagat Rahina dan kawan kawan berkeyakinan bahwa mereka harus menggalang kekuatan untuk melawan penjajah Belanda.
Dalam waktu singkat RM Gagat Rahina dan kawan kawan merasa siap untuk mengusir Belanda. Pada saat yang bersamaan muncul Ndara purba dan mengamuk. Kemudian ia pergi dengan santai. Tidak satupun berani melawan dan tidak satupun terluka. Melalui penjelasan dari Istri Ndara Purba, mereka sadar bahwa Ndara Purba hanya mengetes kesiapan mereka dan ternyata mereka belum siap menghadapi.


Tiba tiba menucul berita duka dari Bekel Lisan teman akrab Ndara Purba, bahwa Ndara Purba mendadak meninggal dunia. Bekel Sastra Lisan meminta RM Gagat Rahina meneruskan perjuangan Ndara Purba tetapi jangan tergesa melawan Belanda, karena memang belum siap. Ia menganjurkan untuk meneladani Ndara Purba, juga Sultan HB VII yang mendirikan banyak pabrik gula untuk mensejahterakan rakyat atau Gusti Putra yang membuat sekolah gratis atau Gusti Juminah yang selalu menyuarakan kebenaran. Bila keteladanan mereka telah merasuk di hati masing masing harus disebar luaskan. Anjuran ini persis yang disampaikan oleh Ndara Purba saat memberi klungsu kepada mereka. Artinya penjajah akan hilang kalau semua warga sekecil apapun harus ikut andil.
Bekel Sastra Lisan akan ikut andil mewartakan perjuangan Ndara Purba dengan menjadi penjaga makamnya. Ia berharap akan banyak peziarah datang dan mereka akan mengikuti jejak Ndara Purba. Ini pekerjaan mudah, tetapi memang hanya itu yang bisa ia lakukan.

Dalam kenyataannya para peziarah tidak ada yang mengikuti jejak Ndara Purba. Mereka hanya memikirkan diri sendiri untuk kepentingan sesaat yang dianggap remeh, seperti problem perselingkuhan, korupsi, ingin putus lotre, dan lain lain. Kenyataan ini membuat Bekel Sastra Lisan mati karena tidak kuat menerima kenyataan bahwa usahanya gagal total.

Selamat Menyaksikan....


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar